Sejarah Tugu Monas, Jakarta

Sejarah Tugu Monas, Jakarta

Siapa yang tak kenal dengan Tugu Monas? Semua warga negara Indonesia tentunya mengenal salah satu ikon terkenal di ibukota negara Indonesia ini. Monumen Nasional atau yang lebih dikenal dengan nama Tugu Monas merupakan monumen peringatan dengan tinggi sekitar 132 meter. Tugu Monas ini dibangun untuk mengenang perlawanan serta perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Tugu Monas dirancang oleh Friedrich Silaban dan R.M. Soedarsono dan mulai dibangun pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah Presiden Soekarno dan mulai dibuka serta diresmikan untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975 oleh Presiden Soeharto. Pembangunan Tugu Monas ini terdiri atas tiga tahap. Tahap pertama berlangsung antara tahun 1961/1962 – 1964/1965, dimana pada masa itu secara simbolik Presiden Soekarno meresmikan pembangunannya dengan menancapkan pasak beton yang pertama. Sedangkan tahap kedua berlangsung antara tahun 1966 hingga tahun 1968. Pembangunan tahap dua ini sempat tertunda terkait dengan adanya pemberontakan Gerakan 30 September 1965. Hingga akhirnya tahap terakhir berhasil dilaksanakan yakni sekitar tahun 1969 hingga tahun 1976.

Bentuk bangunan dari tugu ini berkonsep sebagai Lingga dan Yoni yang melambangkan kesuburan dan kesatuan yang harmonis dan saling melengkapi. Tugu yang menjulang tinggi digambarkan sebagai Lingga yang melambangkan elemen laki-laki dan melambangkan siang hari, sedangkan pelataran yang berbentuk cawan digambarkan sebagai Yoni yang melambangkan elemen perempuan dan melambangkan malam hari. Namun bentuk dari Tugu Monas ini juga dapat diartikan sebagai sepasang Alu dan Lesung yakni alat penumbuk padi tradisional yang menggambarkan budaya bangsa Indonesia.

Yang menarik dari tugu ini adalah bagian puncaknya yang berbentuk lidah api setinggi empat belas meter yang dilapisi lembaran emas seberat 50 kg yang melambangkan semangat perjuangan rakyat Indonesia yang selalu menyala, dimana sebanyak 28 kilogram emas pada lidah api tersebut  merupakan sumbangan dari Teuku Markam yakni seorang pengusaha Aceh yang pernah menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia.

Sementara pada halaman luar tugu terdapat relief yang menggambarkan sejarah bangsa Indonesia. Pada bagian dasar bangunan ini juga terdapat sebuah Museum Sejarah Nasional Indonesia yang dapat menampung sekitar 500 orang. Tugu yang terletak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat ini dapat Anda kunjungi setiap harinya mulai pukul 08.00 – 15.00 WIB. Namun untuk hari Senin pekan terakhir setiap bulannya, tugu ini ditutup untuk masyarakat umum.

Posted: 30 Agu 2013 00:33:00

  
  

Posts yang sama

news news news news news news news news news news news news news news news news news news news news news news news news news news